Biografi & Kisah Penyebaran Islam oleh Sunan Kudus
Sunan Kudus

Kisah Sunan Kudus

Latar Belakang Sunan Kudus (Ja’far Shodiq)

Sunan Kudus merupakan salah satu dari Wali Sembilan atau Walisongo yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Nama asli dari Sunan Kudus adalah Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Beliau merupakan putra dari Sunan Ngudung yang atau terkenal dengan nama Raden Usman Haji. Ibu dari Sunan Kudus yaitu Syarifah. Sunan Kudus bukan asli orang Kudus tapi mampu menjadi tokoh di Kudus karena ketulusannya dan kehebatannya dalam menyiarkan agama Islam kepada masyarakat Kudus yang pada zaman dulu masih banyak beragama Hindu dan Buddha. Sejak kecil, Sunan Kudus sering dipanggil dengan nama Ja’far Shodiq sebagai nama lainnya. Bahkan sampai sekarang pun beliau masih dikenal dengan nama Ja’far Shodiq. Beliau dilahirkan di daerah Jipang Panolan yang sekarang ini berada di sebelah utara kota Blora pada tahun 1500 Masehi.

Sejak kecil sampai masa remaja, Ja’far Shodiq mempelajari agama dengan digurui oleh ayahnya sendiri (Sunan Ngudung). Ja’far Shodiq belajar karena sejak kecil beliau berkeinginan untuk menyiarkan agama Islam. Selain belajar dengan ayahnya sendiri, Ja’far Shodiq juga belajar kepada Kyai Telingsing dan Sunan Ampel. Kyai Telingsing merupakan ulama China yang datang ke tanah Jawa bersama Cheng Hoo (Laksamana Jendral dari China). Mereka ingin menyebarkan agama Islam juga dan membuat tali persaudaraan dengan orang Jawa. Selain belajar agama, Ja’far Shodiq juga belajar ilmu-ilmu lain. Seperti ilmu kemasyarakatan, politik, budaya, seni dan perdagangan. Pada zaman dulu, China sudah terkenal maju sehingga orang-orang China diperbolehkan masuk ke kawasan Nusantara dengan harapan untuk mengajarkan hal-hal yang bersifat berkembang dan penting dalam masa depan.

Semenjak Ja’far Shodiq berguru dengan Kyai Telingsin, beliau telah memiliki kepribadian yang tekun, disiplin dan tegas dalam mengambil suatu tindakan dan beliau juga menjadikan hasil belajarnya ini untuk bekal dalam menyiarkan Agama Islam suatu hari nanti. Salah satu keinginan Raden Ja’far Shodiq adalah berdakwah menyebarkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat yang masih beragama Hindu dan Buddha.

Kehebatan Sunan Kudus saat Menjadi Senopati

Ayah Raden Ja’far Shodiq merupakan Senopati Demak yang memiliki misi untuk memperluas wilayah kerajaan Demak. Suatu hari, Sunan Ngudung gugur dalam pertempuran yang sengit antara pasukannya dengan Raden Husain atau Adipati Terung dari Majapahit. Kemudian Ja’far shodiq sebagai putra dari Sunan Ngudung menggantikan posisi ayahnya untuk meneruskan misi dari kerajaan Demak.

Sebagai senopati kerajaan Demak pada saati itu, Ja’far Shodiq mampu membuktikan kehebatannya berperang di medan perang saat melawan Majapahit. Kehebatannya tersebut juga tidak kalah dengan kehebatan ayahnya dulu. Misalnya, sebelum perang, Ja’far shodiq diberi sebuah badong sakti (rompi) oleh sunan Gunung Jati untuk membantu Ja’far Shodiq dalam melawan musuh di medan perang.  Saat peperangan, badong sakti tersebut mengeluarkan jutaan tikus ganas dan sakti untuk melawan Majapahit. Kesaktian dari tikus itu adalah tidak mati jika dipukul, bahkan saat dipukul maka tikus itu semakin ganas.  Hal tersebut membuat Pasukan majapahit ketakutan sehingga mereka melarikan diri dari kerumunan tikus-tikus sakti. Selain badong, Ja’far shodiq juga mempunyai sebuah peti yang mengeluarkan jutaan lebah yang sangat ganas. Sehingga banyak prajurit Majapahit yang tewas disengat lebah sakti. Akhirnya, Adipati Terung sebagai pemimpin pasukan majapahit menyerah pada pasukan Ja’far Shodiq.

Setelah kesuksesannya mengalahkan pasukan Majaphit, Ja’far Shodiq dihormati oleh kerajaan Demak dan diberikan kewenangan untuk bebas melakukan apa saja sebagai hadiah. Sunan Kudus menggunakan kesempatan ini untuk mewujudkan keinginannya berdakwah menyebarkan agama Islam. Ja’far Shodiq kemudian meninggalkan kerajaan Demak karena Ja’far Shodiq ingin hidup merdeka dan membhaktikan seluruh hidupnya demi kepentingan agama Islam.

Cara Ja'far Shodiq Menyebarkan Agama Islam di Kudus

Setelah mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan dari kerajaan Demak, Ja’far Shodiq pergi menuju ke Kota Kudus. Pada saat menginjak di kota Kudus, keadaan Kota Kudus sudah ada yang masuk ke agama Islam. Ternyata sebelum beliau masuk ke kota Kudus, Kyai Telingsin sudah menyebarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Ja’far Shodiq masuk ke Kota Kudus bersama dengan santri-santrinya dari Demak. Santri Sunan Kudus dari demak adalah mantan prajurit perang yang dipimpinnya dahulu.

Setelah sampai di Kudus, Ja’far Shodiq bersama santrinya membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Masjid yang dibangun oleh Ja’far shodiq adalah Masjid Menara Kudus yang masih berdiri hingga kini. Masjid Menara Kudus ini didirikan pada tahun 956 Hijriyah yang bertepatan dengan 1549 Masehi.

Pada saat itu, masyarakat kudus masih banyak yang menganut agama Hindu dan Buddha meskipun sebagian ada yang sudah beragama Islam. Dengan adanya hal seperti itu, Sunan Kudus berusaha mengajarkan toleransi beragama kepada umat Hindu. Salah satu bentuk toleransi Ja’far Shodiq adalam menghormati Sapi yang disucikan oleh umat Hindu. Pada hari Qurban, Ja’far Shodiq tidak menyembelih Sapi dan hanya menyembelih Kerbau. Hal itu membuat umat Hindu benar-benar tersentuh dengan hal yang dilakukan Ja’far Shodiq. Sehingga para umat Hindu langsung tertarik masuk ke agama Islam.

Setelah Ja’far Shodiq berhasil membujuk umat Hindu memeluk agama Islam, Sunan Kudus bermaksud membujuk umat Buddha untuk memeluk agama Islam juga. Ja’far Shodiq menggunakan cara unik untuk menarik umat Buddha agar masuk agama Islam. Di masjid yang sudah berdiri, Ja’far Shodiq membuat padasan wudhu (tempat berwudhu), dengan pancuran yang berjumlah delapan buah. Pada masing-masing pancuran, diberi sebuah arca yang diletakkan di atas padasan tersebut.

Hal itu dilakukan Sunan Kudus agar beliau berhasil menarik simpati umat Buddha. Jarena Ja’far Shodiq mengetahui delapan ajaran yang di ajarkan dalam agama Buddha. Delapan ajaran tersebut dikenal dengan nama Asta Sanghika Marga. Isi ajaran Asta Sanghika Marga adalah seseorang harus memiliki pengetahuan yang benar, mengambil keputusan yang benar, berkata yang benar, bertindak atau berbuat yang benar, hidup dengan cara yang benar, bekerja dengan benar, beribadah dengan benar dan menghayati agama dengan benar”.  Akhirnya, usaha Ja’far Shodiq membuahkan hasil yang tidak percuma. Banyak Umat Buddha berbondong-bondong ke masjid dan memeluk Islam setelah Ja’far Shodiq menjelaskan bagaimana agama Islam yang sebenarnya.

Demikian pula dalam hal adat istiadat, Ja’far Shodiq tidak langsung menentang masyarakat yang sering menabur bunga di perempatan jalan dan disamping jalan, menaruh sesajen di kuburan, dan adat lain yang melenceng dari ajaran Islam. Dengan kecerdikan Sunan Kudus, Beliau tidak langsung menentang adat itu, tetapi beliau mengarahkan adat tersebut agar sesuai ajaran. Salah satu hal yang dilakukan Sunan Kudus adalah mengarahkan fungsi sesajen yang berupa makanan lebih baik diberikan kepada orang yang kelaparan atau butuh makan. Sunan Kudus juga mengajarkan bahwa meminta permohonan bukan kepada ruh nenek moyang, tetapi harus kepada Allah SWT.

Dengan cara tersebut, akhirnya berhasil membuat penganut agama lain bersedia untuk  mendengarkan ceramah agama Islam dari Sunan Kudus. Salah satu andalan Sunan Kudus adalah sering membacakan surat Al Baqarah yang dalam bahasa indonesia berarti sapi. Hal itu dilakukan untuk lebih memikat pendengar yang beragama Hindu. Bahkan hal lain yang dilakukan Ja’far Shodiq adalah membangun Masjid Kudus dengan memasukkan unsur aristektur Hindu, yaitu diletakkan pada arsitektur Menara Masjidnya.

Selain itu, Sunan Kudus juga mengubah tujuan acara Selametan Mitoni. Acara Selametan Mitoni merupakan acara yang sejak dulu disakralkan oleh masyarakat Hindu-Buddha. Inti dari acara Mitoni adalah bersyukur atas dikaruniai seorang anak. Namun, masyarakat Hindu-Buddha tidak bersyukur kepada Allah SWT, melainkan kepada patung-patung, arca dan roh nenek moyang. Disinilah tugas Sunan Kudus untuk meluruskan inti dari acara tersebut. Sunan Kudus tidak menghapus Selametan dalam kebiasaan masyarakat. Tapi, Sunan kudus meluruskan acara mitoni menuju ke arah Islami. Yaitu dengan bersyukur kepada Allah SWT.

Perjalanan dan Cara Dakwah Sunan Kudus

Setelah lama berdakwah di Kudus, Sunan Kudus mengembara sampai ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika Sunan Kudus tiba di Mekkah, ada seorang penguasa di Mekkah sedang mencari orang yang mampu menghilangkan wabah penyakit dengan imbalan sebuah hadiah yang menggiurkan. Namun, banyak Ulama dari Mekkah yang gagal untuk menghentikan wabah tersebut. Setelah Ja’far Sodiq mendengar berita tersebut, Beliau menghadap penguasa itu dengan maksud menyembuhkan wabah tersebut. Tapi kedatangan beliau disambut tidak baik oleh penguasa tersebut.

Dengan cara apa kamu menghilangkan wabah penyakit ini?” tanya penguasa Mekkah itu.

“Doa” Ja’far Shodiq dengan singkat menjawab pertanyaan.

“Kalau hanya dengan doa, pulanglah saja Tuan. Karena sudah banyak Ulama ternama yang berdo’a disini. Tapi tetap saja gagal.”

“Memang benar disini tempat dilahirkannya Ulama-Ulama besar dan ternama, tapi mereka mungkin masih ada yang memiliki kekurangan sebagai Ulama.” Kata Sunan Kudus.

Sungguh berani Tuan berkata demikian. Apa kamu tahu kekurangan mereka?” Tanya penguasa itu dengan nada tinggi.

Begini, Penyebab mereka menjadi seperti itu adalah Anda sendiri. Karena Anda telah menjanjikan hadiah sehingga membuat mata mereka menjadi gelap. Dampaknya, doa mereka menjadi tidak ikhlas karena terfikirkan imbalan yang Tuan berikan.Kata Sunan Kudus dengan tenang.

Sang penguasa akhirnya terdiam setelah mendengar jawaban itu. Kemudian Sunan Kudus dipersilahkan melaksanakan niatnya. Sunan Kudus berdoa dan membaca amalan-amalan. Tidak lama kemudian, wabah penyakit tersebut hilang. Bahkan, warga yang sakit karena wabah tersebut tiba-tiba sembuh total.

Penguasa Arab tersebut sangat senang dengan hilangnya wabah penyakitt. Hadiah yang dijanjikan akan diberikan kepada Ja’far Shodiq. Namun Ja’far Shodiq menolak hadiah tersebut. Ja’far Shodiq hanya ingin meminta sebuah batu yang berasal dari Baitul Madqis. akhihrnya Sunan Kudus akhirnya mendapatkan keinginannya.  Batu tersebut kemudian dibawa pulang ke tanah Jawa. Dan batu tersebut diletakkan di area imam Masjid Kudus yang sudah berdiri kokoh.

Ada kebiasaan-kebiasaan unik yang dilakukan sunan kudus dalam berdakwah, yaitu selalu mengadakan acara Bedug Dandangan. Acara ini dilakukan sebagai acara yang dilaksanakan untuk menunggu kedatangan bulan Ramadhan. Ja’far Shodiq menabuh beduk dengan keras dan berkali-kali agar para jamaah datang ke masjid dan diberikan pengumuman hari pertama puasa oleh Sunan Kudus.

Dalam menyampaikan dakwah, Ja’far Shodiq juga menerapkan strategi dakwah yang diterapkan Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati yaitu menoleransi budaya setempat, bahkan cara penyampaiannya lebih halus.